Kantor Berita Peristiwa

Kantor Berita Peristiwa

Berita, Hukum, Bisnis, Keuangan, Otomotif, Fashion, Kecantikan

Kantor Berita Peristiwa

Pemerintah Aceh Bahas Kekeringan di Aceh Besar Seluas 1.593 Hektar

Banda Aceh - Pemerintah Aceh menggelar rapat membahas kekeringan sawah yang menyebabkan padi gagal panen atau puso yang melanda Kabupaten Aceh Besar di ruang rapat Asisten ll Sekda Aceh, Selasa (28/1).

Rapat yang dipimpin Asisten ll Sekda Aceh, Teuku Ahmad Dadek, itu melibatkan Dinas Pengairan Aceh, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh hingga Bappeda. 

Teuku Ahmad Dadek menjelaskan, rapat tersebut digelar untuk memetakan langkah dalam menghadapi kekeringan yang melanda areal persawahan di Kabupaten Aceh Besar. 

Dampak kekeringan tersebut dikatakan telah merusak areal persawahan di Aceh Besar seluas 1.593 hektar. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari sejumlah kecamatan di mana Seulimum merupakan kecamatan dengan luas areal sawah yang mengalami puso mencapai 683 hektar. Selanjutnya Kecamatan Kuta Cot Glie seluas 624 hektar, Indrapuri 25 hektar, Pulo Aceh seluas 224 hektar, Krueng Barona Jaya 16 hektar, Kuta Baro 10 hektar, Jantho 8 hektar dan Lhoknga 3 hektar. 

Dalam rapat itu disebutkan, jika luas area sawah yang mengalami gagal panen tersebut dikalikan produktivitas tanaman 5 ton per hektar, lalu dikalikan harga gabah Rp.5.000 per kilogram, maka kerugian yang ditimbulkan mencapai Rp.40 M. 

"Perlu dukungan semua pihak untuk mencari solusi jangka pendek dan jangka panjang terhadap kondisi tersebut mengingat tren kekeringan terus meningkat, terutama di Aceh Besar," kata Ahmad Dadek. 

Setidaknya ada dua solusi untuk menangani kekeringan area persawahan yang disimpulkan dalam rapat tersebut, yakni menggunakan pompanisasi, membangun sumur bor atau sumur dangkal. 

Namun begitu, untuk memastikan solusi apa yang akan ditempuh, diperlukan langkah penelitian langsung ke lapangan guna melihat kondisi persawahan. Pengecekan ke lapangan akan dilakukan pada Kamis mendatang dengan lokasi yang akan dikunjungi adalah kawasan Seulimum dan Kuta Cot Glie. 

"Tolong lihat pola apa yang paling cocok, apakah sumor bor, atau pompanisasi," kata Ahmad Dadek.

UU Pengelolaan Sampah Dinilai Perlu Direvisi

Banda Aceh - Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh, Teuku Ahmad Dadek, menilai Undang-Undang No. 18 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Sampah perlu direvisi dan dipertegas penerapannya. Hal itu sebagai salah satu cara terbaik untuk mengontrol penimbunan sampah yang berlebihan. 

"Secara substansi UU tersebut sudah cukup baik dengan mencantumkan mekanisme infrastruktur dalam peggelolaan sampah dan kerja sama," kata Dadek saat menerima kedatangan Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di ruang Potensi Daerah Setda Aceh, Banda Aceh, Selasa, 28/1/2020. 

Namun demikian, menurut Dadek, masih ada kekurangan pasal-pasal yang mengatur bagaimana menumbuhkan budaya hidup bersih di kalangan masyarakat Indonesia khususnya Aceh. 

Dadek menginginkan dalam revisi UU itu, beberapa rekomendasi dari Pemerintah Aceh bisa dimasukkan. Di antara rekomendasi pihaknya adalah perlunya keterlibatan pihak swasta dalam mengelola sampah, sehingga sampah yang awalnya berbahaya dapat diubah menjadi produk yang bernilai ekonomis. Di samping itu, upaya peningkatan budaya peduli sampah di kalangan masyarakat juga perlu untuk terus ditingkatkan.

“Menumbuhkan budaya bersih harus dipercepat, masalah infrastruktur bisa dibangun banyak namun jika budaya bersih masih kurang sama saja. Budaya ini yang perlu dijaga dan di kembangkan dan itu semua harus dimulai dari kita sendri,” kata Dadek.

Sementara terkait keikutsertaan pihak swasta dalam mengelola sampah perlu didukung dengan regulasi yang tegas dari pemerintah pusat. “Kebijakan di pusat yang tepat akan memengaruhi yang di daerah juga," kata Dadek 

Sementara itu Ketua Delegasi Komite II DPD RI, Abdullah Puteh, mengatakan pertemuan tersebut dilakukan untuk menyempurnakan revisi UU Nomor 18 tahun 2018 tentang pengelolaan sampah. 

“Kedatangan kami dalam rangka menyusun dan menerima rekomendasi serta pandangan dari Aceh tentang pengelolaan sampah,” kata Mantan Gubernur Aceh tersebut. 
Pemerintah Aceh Tunjuk Dua Rumah Sakit Rujukan Tangani Corona

Pemerintah Aceh Tunjuk Dua Rumah Sakit Rujukan Tangani Corona

Banda Aceh - Pemerintah Aceh menyiapkan Rumah Sakit Zainoel Abidin di Banda Aceh dan Rumah Sakit Cut Mutia di Aceh Utara sebagai rumah sakit rujukan untuk penanganan kasus virus corona. 

Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr. Hanif mengatakan, dua rumah sakit itu memang dipersiapkan pemerintah Aceh atas arahan dari Kementerian Kesehatan Indonesia. Kedua rumah sakit itu memang menjadi rumah sakit rujukan bahkan sejak heboh menyebarnya virus flu burung beberapa tahun lalu.

"Kalau ada yang terindikasi setelah di screaning kita tunjuk untuk penanganan di dua rumah sakit ini. SOP penanganan juga telah ada di sana," kata Hanif, Senin 27/01.

Hanif mengatakan, petugas Kesehatan Pelabuhan di Bandara Sultan Iskandar Muda Blang Bintang bakal melakukan pemeriksaan screaning bagi penumpang pesawat yang terbang dari luar negeri khususnya mereka yang terbang dari China. 

Atas nama pemerintah Aceh, Hanif mengimbau masyarakat Aceh untuk tidak melakukan perjalanan ke luar negeri khususnya China jika tidak memiliki kepentingan. Jika pun terpaksa berangkat, Hanif mengimbau mereka menjaga kesehatan.

"Kami menghimbau jangan terlalu takut (dengan virus ini)," kata Hanif. "Alhamdulillah virus ini belum menyebar ke Indonesia. Tapi kita tetap antisipasi jangan sampai kena ke daerah kita," kata dia.

Yang pasti, ujar Hanif, pemerintah Aceh akan terus berkomitmen untuk melindungi masyarakat Aceh khususnya mereka yang tengah berada di daerah terdampak virus corona.

Mengenal Asal Virus Corona

Banda Aceh - Virus baru yang menyebar di Cina telah membuat beberapa negara dunia termasuk Provinsi Aceh di Indonesia menetapkan status siaga. Maklum, banyak mahasiswa asal Aceh yang tengah belajar di negara itu. Lantas apa itu virus corona?

Para peneliti menyebutkan virus corona merupakan virus yang kerap menginfeksi hewan. Namun, virus itu lambat laun dapat berevolusi dan menyebar ke manusia. Virus Corona juga disebut mirip dengan SARS yang mewabah di seluruh dunia pada 2002-2003 lalu. Meski demikian, Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), mengatakan virus itu belum bersifat darurat, sehingga tidak perlu dikategorikan sebagai darurat global, seperti virus SARS.

Virus yang pertama kali muncul di Provinsi Wuhan China. Dilaporkan ratusan orang terjangkit virus yang muncul akhir tahun lalu. Para pejabat China mengatakan virus corona mungkin berasal dari hewan liar yang dijual di Pasar Makanan Laut Huanan yang terletak di pusat kota Wuhan. Mereka yang pertama kali terjangkit virus yang kemudian dinamai Novel 201 Corona virus (2019-nCoV) itu adalah karyawan pasar makanan tersebut.

Media-media di China melaporkan, Pasar Makanan Laut Huanan menjual berbagai jenis makanan unik. Mulai dari anak serigala, rubah hidup, buaya, salamander raksasa, ular, tikus, burung merak, landak, daging unta hingga musang. Berbagai binatang yang dijual di pasar itu merupakan spesies yang terkait dengan pandemi sebelumnya, yakni Server Acute Resporatory Syndrome (SARS).

"Pihak berwenang percaya virus itu kemungkinan berasal dari binatang buas di pasar makanan laut meskipun sumber pastinya masih belum ditentukan," kata Dr Gao Fu, direktur pusat pengendalian dan pencegahan penyakit China, sebagaimana dilansir situs berita CNBC.

Masih menurut CNBC, profesor penyakit menular dan kesehatan global di University of Oxford, Peter Horby, mengatakan virus corona lebih ringan daripada SARS. Virus itu membutuhkan waktu lama untuk berkembang dari gejala awal.

Di antara ciri mereka yang tetdampak virus corona adalah penderitanya akan mengalami sesak nafas ringan hingga sedang serta flu. Gejala lain termasuk pilek, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala dan demam. Semua itu dapat berlangsung selama beberapa hari.

Bagi mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya orang tua dan anak-anak, ada kemungkinan virus dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan yang lebih serius seperti pneumonia atau bronkitis. Penderitanya harus segera ditangani. 

Merebaknya virus corona membuat pemerintah Aceh menetapkan status siaga. Atas arahan Plt Gubernur Nova Iriansyah, pemerintah Aceh membuka posko di dua tempat; di Banda Aceh dan Kantor Penghubung Aceh  di Jakarta.

Jubir Pemerintah Aceh Saifullah Abdulgani, mengatakan bahwa Plt Gubernur Aceh telah mengambil kebijakan terkait dengan Wabah "Virus Corona" yang bersumber di Wuhan China, dengan mengintruksikan kepada seluruh penjabat Aceh untuk SIAGA-1, mengingat ada mahasiswa Aceh yang sedang berada di Wuhan, China.

Selama Krisis Virus Corona, Pemerintah Aceh Tangung Biaya Logistik Mahasiswa Aceh

Banda Aceh - Pemerintah Aceh menanggung biaya logistik--terutama kebutuhan hidup--mahasiswa selama krisis kesehatan akibat wabah virus corona belum berhasil diatasi di China. 

Hal itu disampaikan Juru Bicara Pemerintah Aceh Saifullah Abdulgani (SAG) tak lama setelah Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah, MT berbicara melalui sambungan telpon dengan Alfi Rian, satu dari 12 mahasiswa Aceh di Wuhan, Minggu (26/1).

Dalam pembicaraan tersebut, lanjut Jubir SAG, mahasiswa Aceh asal Krueng Mane, Aceh Utara itu, mengaku khawatir kehabisan bahan makanan yang stock-nya terus menipis di Kota Wuhan. 

Kepada orang nomor satu Aceh itu, Alfi melaporkan kondisi mahasiswa Aceh di sana. Mereka masih bisa belanja saat ini lantaran masih ada super market yang buka di dekat kediaman mereka, namun harga kebutuhan bahan pokok di kota itu terus melonjak naik, jelas SAG. 

Menanggapi laporan Alfi tersebut, lanjut SAG, Pak Nova meminta mahasiswa Aceh tidak perlu khawatir. Pemerintah Aceh akan tanggulangi biaya hidup mereka selama krisis virus corona belum dapat diatasi Pemerintah China. 

Pak Nova langsung minta nomor rekening bank yang ada ATM-nya milik Alfi Rian supaya uang bisa langsung diambil untuk membeli kebutuhan pokok bersama teman-temanya di Kota Wuhan, terang SAG. 

"Semua kebetuhan mahasiswa Aceh di Kota Wuhan atau kota lainnya yang dilanda wabah virus corona ditanggung Pemerintah Aceh, agar mereka dapat bertahan selama situasi krisis kesehatan itu," kata SAG. 

Lebih lanjut SAG mengatakan, selang beberapa menit usai menerima nomor rekening bank dari Alfi, Pak Nova langsung men-transfer uang bantuan yang Beliau janjikan sebelumnya. 

"Pak Nova perpesan untuk membeli perbekalan makanan dalam jumlah yang cukup selagi stock masih tersedia di super market terdekat di Kota Wuhan," kata SAG. 

*Mahasiswa Berterima kasih*

Lebih lanjut SAG mengatakan, mahasiswa Aceh di Kota Wuhan mengucapkan terima kasih kepada Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, atas bantuan dana tunai Rp. 50 juta. Mereka akan gunakan untuk membeli kebutuhan pokok mahasiswa Aceh di Kota Wuhan.

"Alhamdulillah soal stok makanan saat ini tidak terlalu khawatir karena Pemerintah Aceh sudah mengirim dana.Terima kasih kami ucapkan kepada Pak Plt Gubernur," ucap Alfi melalui seorang wartawan di Banda Aceh. 

Alfi melaporkan, keadaan 12 mahasiswa Aceh di Kota Wuhan dalam keadaan sehat. Mereka tidak dikarantina, namun memilih menetap di dalam kamar masing-masing untuk menghindari kerumunan orang karena khawatir tertular virus yang belum ada vaksinnya itu. 

Apabila membutuhkan bantuan mendesak lainnya, mahasiswa asal Aceh di Kota Wuhan atau kota-kota lainnya di China, dapat menghubungi Posko Siaga Virus Corona di Banda Aceh atau Jakarta via HP: 081370113666 dan 085246073030, demikian Jubir SAG [*]. 

Pemerintah Aceh Buka Posko Siaga Virus Corona Di China

BANDA ACEH—Pemerintah Aceh membuka dua Posko Siaga Wabah Virus Corona Wuhan, di China, masing-masing di Dinas Sosial (Dinsos) Aceh, Banda Aceh, dan di Kantor Penghubung Aceh di Jakarta, mulai Minggu (26/10) malam ini. 

Hal itu disampaikan Juru Bicara Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani, sesuai arahan Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah, MT. Posko siaga itu untuk meningkatkan koordinasi antarlembaga dalam mengambil sikap yang diperlukan dalam membantu warga Aceh yang masih tinggal di Kota Wuhan, atau kota-kota lainnya di Tiongkok. 

"Anak-anak kita di Kota Wuhan maupun yang masih di kota-kota lainnya di China bisa mengabarkan kondisinya, dan begitu kondisi memungkin mereka segera kita fasilitasi pulang ke Aceh," kata pria yang akrab disapa SAG ini mengutip Plt Gubernur Aceh.

Selain itu, lanjutnya, masyarakat dapat memperoleh informasi dari petuas Posko Siaga di Banda Aceh via HP 081370113666 (Bani, dari Dinas Sosial). Sedangkan Posko Siaga di Kantor Penghubung Aceh, Jakarta, melalui 085246073030 (petugas Said Marzuki). 

Jubir SAG meminta masyarakat, terutama yang memiliki kerabat di Kota Wuhan, agar berkoordinasi dengan Posko Siaga Pemerintah Aceh untuk memperoleh informasi yang benar, dan tidak panik bila mendapat informasi yang belum pasti kebenarannya. 

Pemerintah Aceh akan melakukan upaya terbaik bagi pelajar Aceh yang masih tinggal di Kota Wuhan, dan masyarakat diajak berdoa agar anak-anak Aceh di negeri Tiongkok itu berada dalam keadaan baik, sehat, dan aman. 

"Terkait Virus Corona yang mewabah di Wuhan, China, Plt Gubernur Aceh menginstruksikan semua Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) terkait untuk bersiaga," ujar pria yang akrab disapa SAG ini. 

SAG juga menjelaskan bahwa Plt Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah MT dan Kepala Dinas Sosial Aceh, Drs Alhudry MM terus melakukan koordinasi dengan Kedutaan Indonesia di China dan dengan masyarakat Aceh, terutama yang saat ini masih tinggal di Kota Wuhan. 

Terbaru, kata SAG, Plt Gubernur Aceh juga sudah berkomunikasi dengan Alfi salah satu mahasiswa di Kota Wuhan, China. Kepada Alfi, Plt Gubernur menyampaikan bahwa keduabelas mahasiwa Aceh di sana berada dalam pantauan pemerintah Aceh.

Berdasarkan laporan Alfi, ada 12 orang mahasiswa Aceh di Wuhan. Keduabelas mahasiswa tersebut yaitu:

1. Fadil - CCNU, Wuhan - Aceh Utara
2. Siti Mawaddah - Huda, Wuhan - Sigli
3. Alfi Rian - WUT, wuhan Aceh Utara
4. Ory Safwar - CCNU, wuhan - Banda Aceh 
5. Siti sahara - WHUT, Wuhan - Aceh Tenggara
6. Hayatul-HUST, wuhan Lhoksumawe 
7. Maisal- HUST , wuhan - Aceh Besar
8. Jihadullah -WHU, wuhan, Banda Aceh
9. Ita Kurniawati- WHU, wuhan - Nagan Raya 
10. Agus - zhongnan, wuhan- Sabang
11. Intan Maghfirah - JISU CC - Banda Aceh (Sekarang di Wuhan ) 
12. SAPRIADI - JISU CC Meulaboh ( Sekarang di Wuhan) 

Sementara Mahasiswa Aceh di Tiongkok di luar Kota Wuhan terdapat 11 orang, yakni:

1. Muhammad Sahuddin-NNU Nanjing, Aceh Barat
2. Desi - CC Changchun - Banda Aceh
3. Yuliafitria- Nanchang University 
4. Rizki Rinanda - Tianjin Aceh Besar
5. Fiqhi Nahdhiah Makhmud - ZJNU, Jinhua, Aceh Tengah
6. Putri Kumala Rizki Rani-Xuzhou, Jiangsu - Aceh Besar
7. Nadlia Ariyati- ZJNU, Jinhua, Zhejiang
8. Aisyah Protonia Tanjung- ZJNU, Jinhua, Hangzhou - Aceh
9. Geunta- JISU-Changchun Aceh Utara 
10. Mirna - BIT - Beijing Aceh tengah
11. Ulfi Maulida- Beijing Banda Aceh. []

Pantau Pelajar di China, Pemerintah Aceh Gandeng Kemenlu RI dan KBRI

Banda Aceh – Pemerintah Aceh memberi perhatian serius terhadap pelajar Aceh di Kota Wuhan, China. Koordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tiongkok, dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) di Jakarta terus dilakukan untuk memastikan anak-anak Aceh di sana dalam keadaan sehat dan aman. 

Hal tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah Aceh Saifullah Abdulgani (SAG), saat menjawab awak media pada acara Konferensi pers terkait kondisi terkini mahasiswa Aceh di Wuhan, di Aula Dinas Sosial Aceh, Minggu (26/1/2020).

“Koordinasi terus kita lakukan dengan Kemenlu RI di Jakarta dan KBRI di China," ujar Jubir SAG. 

SAG menjelaskan, Plt Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah, MT telah menugaskan Kepala Dinas Soaial Aceh, Alhudri bertemu dengan anggota Komisi I DPR RI dan Kemenlu RI untuk berkoordinasi, guna menentukan langkah-langkah antisipatif yang perlu dilakukan terhadap adik-adik mahasiswa di sana,” ujarnya. 

Pria yang akrab disapa SAG ini menghimbau, agar keluarga para mahasiswa tidak resah dan panik. Kota Wuhan yang saat ini dalam pengawasan khusus otoritas Pemerintah di sana. 

Berdasarkan data terbaru dari Mulia Mardi Direktur Pemuda Pelajar Indonesia se-Tiongkok, Mulia Mardi tadi, tidak ada satupun warga Aceh di Kota Wuhan maupun kota lainnya yang dilaporkan terinfeksi virus corona, jelas SAG. 

SAG menambahkan, sejak hari Jum’at (24/1) Pemerintah Aceh melalui Dinas Sosial sudah melakukan komunikasi dengan pelajar Aceh di Wuhan. Seluruh pelajar berharap Pemerintah Aceh menjemput mereka pulang. 

"Penjemputan anak-anak Aceh di Wuhan segera dilakukan apabila kondisi sudah memungkinkan," tegas SAG. 

Permasalahannya, jelasnya, Kota Wuhan belum boleh diakses saat ini, kecuali petugas khusus di sana. Tapi Pemerintah Aceh terus berkoordinasi dengan KBRI dan Kemenlu, karena menyangkut otoritas hubungan antarnegara. 

"Alhamdulillah, KBRI memastikan stok makanan masih cukup meski harganya kini lebih mahal. Anak-anak Aceh dalam kondisi sehat walafiat," tukas SAG.

*Staf Khusus*

Hal senada disampaikan Staf Khusus Gubernur Aceh Fauzan Azima. Pemerintah Aceh terus melakukan pemantauan dan beekoorsinasi dengan semua pihak terkait, baik di Indoneaia maupun di Wuhan, untuk mengetahui kondisi terkini para pelajar Aceh di Wuhan, katanya. 

“Sesuai perintah Pak Plt Gubernur, Pak Al Hudri selaku Kadinsos Aceh sudah berangkat ke Jakarta untuk berkoordinasi dengan Kemenlu dan anggota Komisi I DPR RI. Nantinya, hasil pertemuan tersebut juga akan kami sampaikan kepada awak media. Konferensi pers lanjutan akan terus kita buat, sehingga masyarakat terutama keluarga para pelajar kita lebih tenang menghadapi situasi saat ini,” kata Fauzan Azima.

*Pelajar di Wuhan*

Mulia Mardi, Direktur Pemuda Pelajar Indonesia se-Tiongkok, yang juga masih menimba ilmu di salah satu Universitas di Wuhan menjelaskan, saat ini yang paling dibutuhkan oleh para mahasiswa Aceh yang berada di Wuhan adalah masker khusus dan makanan.

“Merebaknya virus corona di Wuhan berakibat pada menipisnya stok makanan dan masker khusus, saat ini harga makanan bahkan sudah naik hingga lima kali lipat dari harga biasa. Kenaikan ini dipicu oleh kondisi di Wuhan karena sedang masuk dalam musim dingin, ditambah lagi dengan merebaknya corona. Toko makanan yang buka sangat minim dan selalu terjadi antrian panjang karena toko tidak buka setiap saat,” ungkap Mulia.

Mulia menambahkan, sejak Desember 2019, otoritas setempat sudah mengeluarkan peringatan terkait merebaknya virus, namun saat itu peringatan yang dikeluarkan adalah virus sars. Di awal Januari 2020, otoritas di Wuhan mengeluarkan peringatan baru yang menjelaskan, bahwa virus yang merebak adalah virus corona.

Mulia menjelaskan, saat ini ada sekitar 63 Mahasiswa Aceh di seluruh Tiongkok. 33 orang di antaranya berada di Wuhan. Namun sebahagian besar pulang atau memanfaatkan waktu liburan untuk mengunjungi daerah lain di Tiongkok.

Mulia adalah salah satu mahasiswa Aceh yang berada di luar Wuhan, saat kebijakan isolasi diberlakukan oleh otoritas setempat. Saat akan kembali ke Wuhan, otoritas setempat tidak memberi izin. Kejadian sebaliknya justru dialami oleh Safriadi dan Intan. Kedua pelajar asal Aceh ini berkuliah di wilayah Wing Cun. Namun saat kebijakan isolasi diberlakukan mereka sedang berkunjung ke Wuhan. Bersama 10 pelajar Aceh lainnya, saat ini keduanya berada di Wuhan.

“Saat ini teman-teman disana sudah mengisolasi diri di kamar. Dengan stok makanan dan stok masker khusus yang terus berkurang. Di musim dingin, memang aktivitas luar ruangan selalu kami batasi, karena suhu berada di angka 8 hingga 4 derajat celcius.

Saat ini, saambung Mulia, seluruh akses ke Wuhan telah ditutup. Subway, Metro bawah tanah sudah ditutup sejak tanggal 24 Januari lalu. Bus kota dan stasiun kereta api serta bandara juga sudah ditutup, kecuali ada lisenai khusus seperti ambulance dan mobil polisi. 

RAKORDA DPD PKS KOTA BANDA ACEH TARGETKAN 2020 ANGGOTA BARU

BANDA ACEH, 26 Januari 2020 Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Banda Aceh menyelenggarakan Rapat Koordinasi Daerah (RAKORDA) di Hotel Hanifi Bandar Baru Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh. Rakorda kali ini mengusung tema “Semakin Kokoh Melayani Warga Kota Banda Aceh”. Kegiatan ini dihadiri oleh struktur DPW PKS Aceh, DPD dan DPC PKS se-Kota Banda Aceh, serta beberapa DPD sekitar Kota Banda Aceh. Dihadiri juga oleh tamu undangan Wali Kota Banda Aceh H. Aminullah Usman, SE.Ak, Wakil Wali Kota H. Zainal Arifin, Ketua DPRK Banda Aceh Farid Nyak Umar, ST, Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Isnaini Husda dan Usman, SE serta para pimpinan partai tingkat Kota Banda Aceh.

Rakorda ini merupakan kegiatan turunan dari rakornas dan rakorwil pada bulan yang lalu. Targetnya adalah 4 amanah rakornas, yaitu; 1. Perekrutan Anggota Baru Partai, 2. Perjuangan Legislasi dan Kebijakan Publik Strategis Prioritas. 3. Pemenangan Pilkada kedepan dan 4. Good Party Govermence (GPG). Pada sambutannya, ketua DPD PKS Kota Banda Aceh, Iwan Sulaiman juga menyampaikan; “Kita tidak ingin ummat terkotak-kotak, kita ingin menyatukan ummat dalam rangka membangun kota Banda Aceh”.

H. Ghufran Zainal Abidin selaku Ketua DPW menyampaikan dalam sambutannya bahwa selama Walikota Banda Aceh menahkodai bahtera ini dengan baik maka seluruh kader PKS untuk menjaga bahtera dari warga yang ingin membocorkan bahtera ini. Semoga bahtera yang kita tumpangi ini selamat sampai ke pantai.

Rakorda ini dibuka oleh Wali Kota Banda Aceh H. Aminullah Usman, SE.Ak. Pada sambutannya, Wali Kota menyampaikan kedekatannya dengan PKS, dan merasakan selama beliau mempimpin PKS terus mengawal kepemerintahannya. H. Aminullah Usman SE.Ak juga menyampaikan harapannya agar kursi PKS bertambah.

Pada kegiatan ini DPD PKS Kota Banda Aceh juga mengumumkan Struktur DPD dan DPC Se-Banda Aceh yang baru. Reposisi ini dilakukan dalam rangka memperkuat program partai ditingkat Kota dan Kecamatan. Salah satu program utama PKS Kota Banda Aceh adalah merekrut anggota baru sejumlah 2020 kader ditahun 2020 ini.
Back To Top