Kantor Berita Peristiwa

Berita, Hukum, Bisnis, Keuangan, Otomotif, Fashion, Kecantikan

Kuota BBM Bersubsidi yang ditambah bukan Stiker yang Dicetak

Banda aceh - Baru-baru ini Pemerintah Aceh bersama PT. Pertamina (Persero)telah meresmikan program stickering bahan bakar minyak jenis premium dan solar bersubsidi di Aceh sesuai Surat Edaran Gubernur Aceh Nomor: 540/9186 tahun 2020. Akibatnya kini hanya mobil berstiker yang boleh mengisi BBM bersubsidi.

Alasan pemasangan sticker sebagaimana yang  disebutkan oleh Asisten II Sekda Aceh, T. Ahmad Dadek adalah untuk memperjelas pemanfaatannya dan tidak jatuh ke tangan orang yang tidak berhak.

Saat itu Dadek menyebutkan jika kesadaran masyarakat Aceh masih sangat rendah untuk beralih menggunakan BBM sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan hingga membuat antrian panjang di SPBU dan berpotensi penggunaan bahan bakar Premium dan Solar Subsidi melebihi kuota yang telah ditetapkan BPH Migas untuk Aceh.

Menanggapi terkait pemasangan sticker ini, Tuanku Muhammad yang saat ini sedang menjabat Ketua Fraksi PKS DPRK Banda Aceh menyatakan seharusnya pemerintah Aceh berupaya untuk melobi pusat dalam hal ini BPH Migas untuk menambah Kouta BBM bersubsidi untuk masyarakat Aceh bukan malah membuat sticker. Ketika terjadi kelangkaan BBM subsidi berarti jumlah kuota masih kurang sedangkan masyarakat miskin Aceh yang membutuhkan banyak. Meskipun tidak dipungkiri jika ada oknum masyarakat yang mampu yang malah membeli BBM bersubsidi jenis premium maupun solar.

Belum lagi menurut mantan Aktivis KAMMI Aceh ini sticker yang dipasangkan secara permanen di kaca depan mobil, bertuliskan: Bukan Untuk Masyarakat Yang Pura-pura Tidak Mampu, untuk kendaraan yang memakai premium. Sedangkan mobil memakai solar akan ditempeli stiker bertuliskan Subsidi Untuk Rakyat, Bukan Untuk Para Penimbun Yang Jahat terkesan merendahkan dan dapat mencederai hati nurani masyarakat.

 "Kita mendorong agar para walikota maupun Bupati di 21 kabupaten dan kota di Aceh untuk berdialog dengan PLT. Gubernur Aceh agar program pemasangan sticker ini bisa ditinjau ulang. Agar masyarakat tidak merasa semakin sulit di tengah masa-masa sulit seperti ini". Tambah Tuanku.

Tuanku menerangkan selama pemasangan sticker ini ternyata masih ditemukan mobil-mobil yang berkategori mewah juga ikut terpasang sticker BBM bersubsidi. Artinya pemasangan ini belum menyentuh untuk orang kurang mampu sepenuhnya.

Juga ada keanehan dimana sticker ini hanya diberikan kepada mereka yang punya mobil sedangkan masyarakat miskin yang lebih banyak menggunakan sepeda motor dan becak malah tidak ada sticker.

"Ini aneh, sticker dicetak untuk ukuran 1 meter. Artinya mereka yang menggunakan becak dan sepeda motor tentu tidak bisa mengakses BBM bersubsidi. Padahal masyarakat kecil itu lebih banyak menaiki sepeda motor atau becak untuk mencari nafkah". Ucap Tuanku.

Bahkan baru-baru ini  di Banda Aceh para nelayan  di Alue Naga yang notabene masyarakat kecil mengaku kesulitan mendapatkan solar bersubsidi. Seharusnya pemerintah lebih mencari solusi terkait permasalahan yang seperti ini.

Akhirnya, Tuanku berharap agar program ini bisa ditinjau ulang secepatnya. Sebelum semakin banyak keresahan yang terjadi di masyarakat. Atau membuat masyarakat kecil semakin terdesak ekonominya di tengah wabah Covid 19 yang juga belum mereda di Aceh.
Labels: DPRK, Ekonomi

Thanks for reading Kuota BBM Bersubsidi yang ditambah bukan Stiker yang Dicetak. Please share...!

0 Comment for "Kuota BBM Bersubsidi yang ditambah bukan Stiker yang Dicetak"

Back To Top