MenkopUKM Bangga Aceh Punya Koperasi Wanita Gayo Yang Mendunia

Peristiwa.co, Aceh Tengah - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengapresiasi Koperasi Kopi Wanita Gayo (Kokowagayo), yang telah malang-melintang di pasar internasional. 

Kokowagayo menjadi satu-satunya koperasi wanita di kawasan Asia Tenggara yang masuk dalam organisasi petani kopi wanita internasional berbasis di Peru, Amerika Selatan, yaitu Organic Product Trading Company (OPTCO) Cafe Femenino. 

"Kokowagayo ini sudah mendunia. Menjadi kebanggaan Indonesia, bahwa ada koperasi wanita kiprahnya diakui secara internasional," ucap Teten dalam kunjungan kerjanya ke Kokowagayo di Bener Meriah, Aceh Tengah, Jumat (18/6). 

Kopi Gayo dari Aceh Tengah, kata Teten, memang menjadi salah satu kopi terbaik yang diakui dunia. Namun, ada beberapa kendala yang dihadapi para petani kopi gayo di Aceh Tengah, termasuk Kokowagayo, yaitu masalah harga dan kualitas kopi. 

Menuru Teten, saat ini, harga kopi mulai membaik menjadi 6 dolar Amerika Serikat atau setara Rp86.299 per kilogram (kg) di pasar New York. Sebelumnya hanya di angka 5,9 dolar AS atau setara Rp84.916 per kg. 

"Sementara harga kopi kita ini sebenarnya mahal, di harga 11 dolar AS, atau sekitar Rp158.270 per kilogram. Kenaikan harga kopi ini kemungkinan karena produksi dunia yang turun, termasuk Brazil. Ini bisa berimbas pada permintaan kopi Indonesia akan tinggi. Jadi, stok lama di dalam negeri bisa diserap pasar luar negeri," imbuhnya. 

Di tengah harga komoditas pertanian yang turun di saat panen raya, justru kopi melimpah. Untuk itu Teten menegaskan, agar tata niaga kopi di Aceh Tengah diperbaiki. Terutama kelembagaannya lewat koperasi. 

“Saya mengusulkan agar memperkuat koperasi-koperasi di sektor pangan/riil. Karena 59 persen koperasi masih banyak yang bergerak di sektor simpan pinjam," pintanya. 

Ketua Kokowagayo, Rizkani Melati, mengatakan, seluruh anggota koperasi ini diisi oleh petani kopi perempuan, yang berjumlah 409 orang dan mengelola lahan sebanyak 342 hektare (ha). 

"Kami menjual green bean, pasarnya mayoritas sekitar 70 persen ke Amerika Serikat, 20 persen ke Eropa, dan sisanya 10 persen ke Australia dan Asia," rincinya. 

Saat ini, aset Kokowagayo mencapai Rp8,5 miliar. Sementara per tahun, kapasitas produksi Kokowagayo mencapai 450.000 ton. Sekitar 20 kontainer, atau sekitar 422.400 ton, diperuntukkan bagi pasar luar negeri. 

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bener Meriah, Dailami merinci, jumlah petani di Bener Meriah mencapai 64 ribu. Namun, mayoritas lahan kopi di Kabupaten Bener Meriah masih dikelola secara perorangan. 

“Tapi kami semua di sini punya keunggulan karena ditanam secara organik. Paling hanya 1 persen yang pakai pupuk," kata Dailami. 

Sehingga tak heran, kata Dailami, bahwa kopi Gayo asal Bener Meriah ini mampu menarik pasar dunia. Di Bener Meriah, sambung dia lagi, pembeli kopi petani banyak dilakukan oleh beberapa koperasi. Di antaranya Koperasi Buana Mandiri, Koperasi Bahtera Permata Gayo, dan termasuk Kokowagayo. 

"Kami berharap support KemenKopUKM dan juga LPDB-KUMKM agar koperasi-koperasi lain bisa membantu menumbuhkan ekonomi petani kopi," pungkasnya.

Tidak Gunakan Benih Bersertifikat Padi Petani ini Alami Jamur Cendawan Pyricularia grisea

Peristiwa.co, Aceh Besar - Dalam diskusi oleh penyuluh pertanian yang dilakukan Khaidir di salah satu warung kopi di kecamatan simpang tiga mendapatkan informasi tentang padi petani yang mengalami gejela busuk leher ini diketahui setelah monitoring lanjutan oleh POPT Kecamatan Simpang Tiga, Selasa 23 Februari 2021.

"Pertama saya dan teman-teman di BPP Simpang Tiga tidak mengetahui gejala busuk leher, karena tidak tampak, kemudian saat pengamatan kedua dihari yang berbeda, baru terlihat busuk leher dan ada benang-benang putihnya, yang kami yakini itu adalah miselium jamur patogen tersebut". Jelas Vivi Yana Zamzami selaku Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman( POPT) yang juga alumni Fakultas Pertanian Unsyiah jurusan Hama Penyakit Tumbuhan.

 "Di Kecamatan Simpang Tiga belum pernah ada kasus serangan busuk leher, makanya tim kemaren hilang sasaran pengamatan saat pertama kali kasus ini dilaporkan oleh petani". Jelas POPT, Vivi Yana Zamzami.

Menurut informasi dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat yaitu Gampong Nya Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Aceh Besar, Marlina, petani menggunakan benih yang tidak bersertifikat.

"Saya sudah telusuri terkait benih yang petani kita gunakan ini, tapi yang bersangkutan mengaku benihnya diperoleh dari hasil panen petani lain". Ungkap Marlina.

"saya ambil dalam karung goni yang suami saya bawa pulang hasil dari pembelian gabah sama petani, saya lihat bulir nya bagus, lalu saya simpan untuk saya tanam". Cerita Nurjanah petani yang padinya mengalami busuk leher.

jamur busuk leher atau patah leher dalam bahasa ilmiah  disebabkan oleh cendawan Pyricularia grisea atau P. oryzae.

Distan Aceh Besar Latih Petani Mengolah Cabai Merah

Petani Cabai Aceh Besar mendapat pelatihan Olahan Cabai Merah dari Bantuan Teknis Klaster Cabai Merah Tahun 2019. Kegiatan ini adalah Kerjasama Kantor Perwakilan BANK INDONESIA (BI) Provinsi Aceh dan Pusat Riset Pengembangan Pertanian Organik Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dengan Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Besar.

“Kita sangat senang dengan adanya program ini dari BI sehingga petani Cabai Merah kita khususnya di Aceh Besar semakin semangat dan mampu menjadi penggerak bagi petani-petani yang lain”. Kata Inda Wahyuni dalam sambutannya mewakili Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Besar.

Untuk program Pendampingan Hilirisasi Produk dari BI menggandeng empat kelompok tani, satu berada di Kecamatan Lembah Seulawah dan tiga kelompok tani berada di Kecamatan Mesjid Raya.

“Kami dari BI sangat membutuhkan peran serta baik dari petani Cabai, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) maupun dari kampus Universitas Syiah Kuala. Sebagaimana kita ketahui bersama, untuk tahun ini BI menganggarkan kucuran dana yang lebih besar pada Klaster Cabai Merah, kalau tahun sebelumnya hanya 1 hektar untuk 4 kelompok tani, tapi tahun ini kita tingkatkan menjadi 4 hektar untuk empat kelompok”.

Ungkap Andria Vidiatama perwakilan dari BI saat pembukaan acara.

“Kita berharap semua inovasi dan teknologi bisa teraplikasi dilahan yang menjadi Klaster kita, jadi kita harap petani bisa berperan aktif dalam kegiatan ini sehingga pendampingan ini terlaksana dengan baik”. Ungkap Syafruddin selaku Dosen Universitas Syiah Kuala yang fokus pada budidaya Cabai Merah Organik.

Dalam setiap kegiatan budidaya, kehadiran Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sangatlah perlu diperhatikan sehingga tanaman cabai merah bisa tumbuh dan berkembang dengan baik dan mampu memproduksi secara maksimal.

“diwilayah binaan saya, yaitu dikelompok tani Bunga Harapan, Gampong Lon Baroh Kecamatan Lembah Seulawah adanya serangan jamur Phytophthora yang menimbulkan gejala busuk pangkal batang”. Jelas Khairullah, PPL BPP Lembah Seulawah.

Lain halnya dengan kondisi petani Cabai Merah di kawasan Kecamatan Mesjid Raya, khususnya di Gampong Ladong, yaitu terjadi keriting daun cabai merah.

“didaerah kami banyak serangan hama yang menyebabkan daun cabai keriting. Dalam program dengan BI ini kami ada tiga kelompok tani yang tergabung kedalam Gapoktan Ladong Makmur”. Jelas Dessy Novianti, PPL BPP Baitussalam.

Konsistensi BI dalam membantu petani-petani di Aceh khususnya Aceh Besar sangat membantu para petani dalam kegiatan budidayanya. “ BI sangat konsisten dalam hal ini, sejak 2017 seperti sudah mulai mendampingi petani-petani dikawasan Krueng Raya Kecamatan Mesjid Raya. Harapan saya, bukan hanya empat  kelompok ini saja yang menjadi sasaran, tapi bidang peternakan juga harus menjadi mitra BI, karena di Aceh Besar apalagi di Kecamatan Mesjid Raya adalah populasi ternak terbanyak dan sangat membutuhkan manajemen dalam peternakan”. Harap Khaidir Tim Cyber Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Besar.

Back To Top