Kementerian LHK Dukung Ketahanan Pangan Santri dan Kembangkan UMKM di Aceh

Banda Aceh -Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menyatakan siap memfasilitasi sarana dan prasarana pengolahan hasil hutan, sekaligus menumbuhkembangkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Provinsi Aceh.

Informasi ini disampaikan Kepala Dinas (Kadis) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Aceh A. Hanan, SP, MM, usai mendampingi Penjabat Gubernur Aceh Achmad Marzuki, Ketua DPR Aceh Saiful Bahri dan Anggota DPR RI asal Aceh HM Salim Fakhry SE (Fraksi Partai Golkar), bertemu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc di Kantor Kementerian LHK Gedung Manggala Wana Bakti, Jakarta, Rabu, 27 Juli 2022.

Ikut juga hadir dan mendampingi Ketua DPRK Aceh Tenggara Denny Febrian Roza SSTP M.Si, sedangkan Menteri LHK didampingi Sekjen, Plt Dirjen KSDAE, Dirjen PSKL dan Direktur RPPWPH.

Menurut Hanan, dalam pertemuan tersebut, Pj Gubernur Aceh menyampaikan beberapa hal, terkait dengan tata kelola hutan Aceh seperti, konflik gajah dengan manusia. Pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya UMKM.

Selain itu, penyelesaian konflik tenurial terhadap kopi dalam kawasan hutan di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah serta pembangunan jalan Kutacane (Aceh Tenggara) menuju Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Mensikapi laporan tersebut, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc menyatakan dukungannya, menyelesaikan konflik antara gajah dan manusia dengan cara, Kementerian LHK akan membangun demplot areal pengembangan jagung sebagai pakan gajah.

“Sedangkan pemberdayaan ekonomi masyarakat, Ibu Menteri meminta Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL), memfasilitasi sarana dan prasarana pengolahan hasil hutan, sekaligus menumbuhkembangkan UMKM,” jelas Kadis LHK Aceh A. Hanan, SP, MM melalui Anggota Tim Kerja Pj Gubernur Aceh Bidang Media dan Komunikasi, Muhammad Saleh.

Selain itu, terkait penyelesaian konflik tenurial terhadap kopi dalam kawasan hutan di Aceh Tengah dan Bener Meriah, Menteri LHK Siti Nurbaya memberi arahan agar dapat diselesaikan melalui skema perhutanan sosial dan PBPH melalui BUMD.

“Ibu Menteri juga mendukung pembangunan Jalan Kutacane-Langkat yang diajukan Bapak Pj Gubernur Aceh kepada Kementerian PUPR dan akan menerbitkan Perizinan Penggunaan Kawasan Hutan atau PPKH,” jelas A. Hanan.

Kecuali itu, Kementerian LHK juga akan mempercepat pembangunan DAOPS Mangala Agni di Wilayah Barat-Selatan Aceh yang rawan terhadap kebakaran hutan serta lahan.

“Kebijakan ini sekaligus bersinergi dengan Kementerian Pertanian dan pihak terkait lainnya, sehingga dapat melaksanakan program kegiatan mendukung ketahanan pangan pada areal kawasan hutan yang telah diterbitkan izin perhutanan sosial,” ulas A. Hanan.

“Khusus penghijauan, Menteri LHK juga mendukung program Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki, terkait program penghijauan dayah dan fasilitas umum serta sosial, sekaligus mendukung ketahanan pangan santri dalam bentuk bantuan tanaman produktif,” tambah A. Hanan.

Bangkai Paus Yang DI Temukan Di Aceh Besar Ternyata Paus Baleen


Aceh Besar - Setelah heboh beberapa hari sebelumnya tentang penemuan bangkai ikan paus oleh tim ekspedisi Lembaga GDI Aceh di Lambaro neujid Peukan bada Aceh besar mendapat respon dari lembaga BPSPL Padang Sumbar untuk pengkajian lebih lanjut. 

Setelah berita ini muncul pihak BPSPL Padang langsung mendapatkan respon dari pimpinan Badan tersebut  bapak Ir Mudatsir yang masih dijakarta, langsung memerintahkan staf nya untuk turun kelapangan.

 Pak Kris handokoyang mendapat tugas dari pimpinan nya langsung bekordinasi dan turun kelapangan bersama Derektur  GDI Aceh Pak Saifuddin NH dan menghubungi instasi terkait, PSDKP Lampulo, UKM FKH Unsyiah,jaringan KuALA serta camat pekan bada juga ikut hadir. 

Setelah ditelusuri dan mengumpulkan data lapangan juga dari nelaya bahwa jenis bangkai itu adalah PAUS (  BALEEN   )

Mamalia laut yang dilindungi ini sudah mati dilaut yang diantar oleh kawannya kepingir pantai begitu disampaikan oleh pawang din yang melihatnya "waktu itu, karena saya pikir ini hanya ikan biasa saja dan tidak tau harsu melapor kemana jadi saya hanya membiarkan saja" Ujarnya 

Camat peukan bada bapak Mustafa SE mengatakan

Kalau daerah laut ujung pancu dan pulo aceh jika memasuki musim timur sesekali muncul ikan paus.

" Saya ketika mendapat telpon dari rahhmi fajri ada paus terdampar saya langsung kelokasi untuk bersama-sama menanganinya terimakasih sudah diberitaukan kepada saya dan terimakasih saya ucapkan kepada semua pihak yang membantu menaganinya semoga ini menjadi amal kita". ujar camat Peukan Bada Mustafa SE. 

Pak Kris Handoko dari bpspl padang mengatakan "Untuk kepastian data yang valid memang perlu uji laboratorium khusus diteliti tes DNA dan jenis lainnya namun tidak dapat dilakukan lagi karna bangkainya sudah rusak atau busuk".

bangkai Paus ini diperkirakan terdampar sendiri terpisah dari kawanannya menurut informasi nelayan 3-4 ekor. Untuk penanganan bangkai paus ini kita tanam di pasir dekat kerangkanya

bersama tim yang hadir. bilamana memungkinkan nantinya sebagai langkah tindak lanjut kembali setelah ditanam selama 2-3 bulan akan digali kembali  untuk diteliti lebih lanjut terhadap kerangkanya untuk pengumpulan data yang lebih lengkap terhadap keberadaan dan data bangkai  Paus ini nantinya. 

Derektur GDI Aceh Saifuddin Nh menghimbau kepada masyarakat dan nelayan bilamana menemukan binatang laut/ mamalia laut dan jenis lainnya bila terdampar atau menemukan bangkainya segera melaporka kepada pihak terkait agar cepat mendapat respon dan penanganan tindakan lebih lanjut.

Psdkp lampulo yang lansung hadir komandan Herno beserta stafnya mengatakan kedepan perlu adanya langakah tindak lanjut bersama kita berharap bpspl padang membentuk tim khusus Untuk penanganan mamalia laut yang dilindungi sehingga kedepan mudah ditangani jika adaa informasi mamalia laut terdampar.

Back To Top