DPRK Banda Aceh Minta Kemetrian PU Anggarkan Dana Untuk Pemugaran Situs Sejarah Gampong Pande dan Gampong Jawa

Peristiwa.co , Banda Aceh - Komisi 3 DPRK minta Kementrian PU Anggarkan anggaran untuk pemugaran situs sejarah di Gampong Pande dan Gampong Jawa. 

Hal ini disampaikan Ketua Komisi 3 DPRK Banda Aceh, Teuku Arief Khalifah, ketika mengunjungi Kepala Balai Prasana Permukiman Wilayah Aceh M. Yoza Habibi di Lamsayeun, Jumat 23 April 2021

“Terlepas masih terdapat polemik dalam pelaksanaan pembangunan IPAL di Gampong Jawa, pemugaran dan pelestarian situs sejarah di kawasan tersebut harus terus diperjuangkan. Oleh sebab itu kami meminta kepada Kementerian PU melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah Aceh agar dapat memplot anggaran untuk penyelematan dan pemugaran situs di Gampong Pande dan Gampong Jawa” 

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Sekretaris Komisi Irwansyah, ST, serta Anggota Komisi Royes Ruslan SH, Ir. Bunyamin, Daniel Abdul Wahab serta Sabri Badruddin ST, Arief menyampaikan bahwa Komisi 3 seperti komitmen awal akan terus mendorong rencana pemugaran dan penyelamatan ratusan batu nisan, tidak hanya di sekitar lokasi pembangunan IPAL Gampong Jawa tapi juga di wilayah Gampong Pande secara keseluruhan. 

“Kami telah meminta Dinas PUPR Kota  untuk memulai rencana pugar atau MasterPlan, namun dengan keterbatasan APBK, kami mengharapkan kepada Kementerian PU agar dapat membantu penganggaran kegiatan ini sampai terlaksana” pinta Arief. 

Dalam proses nya penyiapan rencana induk ini harus merangkul semua elemen. 

“Tentu perlu dilakukan pertemuan-pertemuan seperti FGD untuk menggali lebih banyak informasi tentang perencanaan pemugaran, mengundang semua pihak-pihak yang terlibat seperti Sejarawan, Budayawan, Tokoh masyarakat, ahli waris kerajaan, LSM, akademisi dan lain sebagainya. Dari sini dapat di kumpulkan informasi yang dituangkan dalam suatu perencanaan. Ini harus segera dilakukan. Karena saya yakin dengan kesiapan dokumen akan mudah untuk melobi pusat dalam menurunkan anggaran pemugaran” 

Arief menyampaikan Komisi 3 sangat mendukung langkah-langkah penyelamatan situs. “Bahkan permohonan anggaran untuk pemugaran hari ini secara resmi sudah kita serahkan kepada Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Aceh sebagai perwakilan Kementerian PU”

Saya optimis permohonan ini akan ditanggapi baik oleh Pemerintah Pusat, namun kami juga berharap agar Pemerintah Kota dapat segara mempersiapkan dokumen pendukung seperti pernyataan minat, DED bahkan Rencana Tata Ruang Bangunan Lingkungan” ujar Arief.

Disinggung mengenai IPAL Gampong Jawa, Arief menyampaikan bahwa komisi 3 sampai saat ini masih terbuka terhadap pandangan yang berbeda. 

“Sampai hari ini kita masi terus mendorong apabila terdapat penelitian yang berbeda dari yang di lakukan oleh Pemerintah mohon diberikan ke DPRK. Seperti yang saya sampaikan dalam beberapa diskusi, hari ini hasil penelitian mendukung untuk melanjutkan pelaksaan IPAL tersebut, namun apabila ada penelitian yang kredibel dengan rekomendasi berbeda yang menjadi dasar penolakan IPAL, tolong di berikan ke kita agar dapat di pelajari” ujar Arief.

Arief juga menyampaikan bahwa Ombudsman Wilayah Aceh telah melakukan hearing atau dengar pendapat terkait pelaksanaan kelanjutan pembangunan IPAL Gampong Jawa dengan mengundang seluruh pihak terkait. Hasil pertemuan itu menghasilkan rekomendasi untuk melakukan Heritage Impact Assisment di kawasan tersebut yang akan di prakarsai oleh Balai Cagar Budaya. 

“Mudah-mudahan assistment ini akan memperjelas bagaimana status situs  dan bagaimana kelayakan IPAL untuk dilanjutkan kembali” tutup Arief.

Gubernur Ajak Irwasum Polri dan Wali Kota Bogor Gowes ke Situs Tsunami

Peristiwa.co, Banda Aceh - Gubernur Aceh Nova Iriansyah, mengajak Komjen Pol Agung Budi Maryoto dan Wali Kota Bogor Bima Arya, napak tilas ke sejumlah situs tsunami yang ada di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, Senin (29/3/2021) pagi.

Kedua tokoh ini berada di Kota Banda Aceh untuk menghadiri dua agenda berbeda. Irwasum Polri ke Aceh untuk menghadiri acara Focus Grup Discussion (FGD) Pencegahan Pungli pada Layanan Sekolah Tingkat SMA, SMK dan SLB, yang digelar oleh Dinas Pendidikan Aceh.

Sementara itu, Wali Kota Bogor datang ke Aceh untuk menghadiri acara Pra Kongres V Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), yang digelar oleh Pemerintah Kota Banda Aceh.

Gubernur Aceh memanfaatkan kesempatan tersebut, untuk mempromosikan potensi wisata tsunami dan suasana kondusif Aceh saat ini kepada dua pejabat dimaksud. Ba’da Shubuh Gubernur mengajak kedua pejabat ini gowes.

Sejumlah situs tsunami pun disinggahi. Perjalanan dimulai dari Hotel Hermes. Selanjutnya, rombongan bertolak ke Museum Tsunami Aceh. Setelah beristirahat sesaat, Gubernur dan rombongan menuju ke situs tsunami PLTD Apung di Gampong Punge.

Selanjutnya, rombongan bergerak ke Pantai Ulee Lheue. Kemudian, perjalanan dilanjutkan ke Lhoknga, tepatnya di Tanjakan di sisi Taman Tepi laut Aceh Besar.

Setelah beristirahat sesaat dan mengabadikan beberapa momen, rombongan bergerak kembali ke Banda Aceh. Pagi ini, lebih 25 kilometer jarak tempuh dilalui oleh Gubernur dan rombongan.

Ketua DPRK Sambangi Rumoh Manuskrip Aceh, Ungkap Pentingnya Merawat Naskah Kuno


Peristiwa.co, Banda Aceh - Ketua DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, mengunjungi Rumoh Manuskrip Aceh milik kolektor Tarmizi A Hamid atau Cek Midi, di Gampong Ie Masen Kayee Adang, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, Selasa (23/3/2021).

Dalam kesempatan itu Farid mengatakan, manuskrip merupakan khazanah keilmuan bangsa Aceh warisan masa lalu. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Aceh yang telah mengenal literasi dengan baik sejak tempo dulu.

Kedatangan Farid juga disambut oleh Tim Pelestarian Pusat Preservasi Naskah Kuno dan Alih Media dari Perpustakaan Nasional RI yang sedang melakukan teknik pelestarian manuskrip di Rumoh Manuskrip Aceh tersebut.

"Saya yakin manuskrip ini menyimpan banyak pengetahuan dan keilmuan yang sengaja ditulis untuk diwariskan dari generasi ke generasi," kata Farid.

Farid menilai, pelestarian manuskrip sangat penting dilakukan agar naskah kuno itu terjaga dan terawat serta tidak rusak karena mengandung nilai-nilai sejarah yang sangat berharga. Namun, kata Farid, yang tak kalah penting lagi menurutnya, manuskrip itu mampu diterjemahkan dan dikaji sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bermanfaat bagi masyarakat Aceh. Hal ini karena manuskrip juga kaya akan khazanah ilmu pengetahuan.

"Saya juga yakin masih banyak lagi manuskrip di Aceh, baik yang disimpan secara pribadi ataupun dikoleksi yang dapat dimanfaatkan isi beserta kajiannya bagi kepentingan masyarakat Aceh," ujarnya.

Untuk itu, Farid juga berharap kepada instansi terkait di Kota Banda Aceh seperti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Arsip dan Perpustakaan, para pakar, dan akademisi untuk memanfaatkan, mengumpulkan, dan menata serta mengkaji secara mendalam keberadaan manuskrip-manuskrip kuno tersebut.

DPRK Banda Aceh kata Farid, mengapresiasi inisiatif yang sudah dilakukan oleh Tarmizi A Hamid karena bersungguh-sungguh merawat dan melestarikan ratusan naskah kuno itu. Melalui manuskrip inilah masyarakat Aceh mengetahui jika indatu atau nenek moyangnya memiliki budaya dan peradaban yang tinggi.

"Kita cukup bangga dengan putra Aceh di Banda Aceh yaitu Cek Midi yang luar biasa memiliki semangat untuk merawat dan menjaga khazanah keilmuan masa lalu berupa manuskrip ini," tuturnya.

Sementara itu, Tarmizi A Hamid mengatakan, usaha mengumpulkan manuskrip Aceh sudah dilakoninya sejak lama atas dasar panggilan jiwa, walaupun secara keilmuan dirinya berlatar belakang pendidikan agribisnis pertanian.

"Namun, di tengah jalan saya menarik diri dan fokus terhadap cagar budaya yang banyak terlantar di Aceh sampai sekarang," kata Cek Midi.

Sementara itu, Keuchik Ie Masen Kayee Adang, Zulfikar, mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Cek Midi untuk mengumpulkan manuskrip Aceh yang memiliki nilai sangat tinggi sehingga generasi ke depan dapat mempelajarinya kembali.

"Kami berharap kepada pihak Dinas Arsip dan Perpustakaan Banda Aceh supaya dapat membangun museum di Gampong Ie Masen agar manuskrip yang terkumpul dapat dijaga dengan baik, sekaligus memelihara sebagaimana Cek Midi lakukan hari ini," katanya.

Turut hadir dalam kunjungan tersebut, Sekretaris Dewan, Tharmidzi, Kabag Umum dan Keuangan, Muslim, Kabag Hukum Humas dan Persidangan, Yusnardi dan Kabag Penganggaran dan Pengawasan, Maulidar.

Nisan Diduga Peninggalan Era Kerajaan Ditemukan di Area Proyek Tol Aceh

Nisan Diduga Peninggalan Era Kerajaan Ditemukan di Area Proyek Tol Aceh

Penemuan nisan di lokasi proyek tol Aceh (dok. Istimewa)

Penemuan nisan di lokasi proyek tol Aceh (Foto: dok. Istimewa)

Banda Aceh - Sejumlah batu nisan yang diperkirakan peninggalan Kerajaan Aceh ditemukan di area proyek pembangunan gerbang tol. Beberapa nisan berbentuk bulat.

Batu nisan berbagai ukuran itu ditemukan di lokasi proyek pembangunan gerbang tol di Kajhu, Aceh Besar, Aceh. Sebagian nisan berbentuk bulat dan lokasinya hanya beberapa meter dari jalan raya.

"Penemuan nisan-nisan ini berawal dari anggota kita yang bertugas untuk keliling melihat situs cagar budaya," kata Ketua Komunitas Peubeudoh Sejarah, Adat, dan Budaya (Peusaba) Aceh, Mawardi Usman, kepada wartawan, Rabu (10/2/2021).Jarak antar-nisan sekitar satu hingga lima meter. Beberapa nisan sudah tidak tertancap di tanah. Nisan-nisan itu diperkirakan peninggalan dari era Kerajaan Aceh Darussalam.

Mawardi mengatakan pihaknya juga mendapat laporan dari masyarakat terkait lokasi makam masuk dalam proyek pembangunan jalan tol. Setelah dilakukan pengecekan, dia melihat beberapa nisan sudah dipindahkan ke tempat lain.

Dia berharap pembangunan jalan tol tidak merusak cagar budaya. Dia meminta pihak yang mengerjakan proyek pembangunan gerbang tol tidak memindahkan letak batu nisan."Setelah kami datang, ternyata benar ada beberapa makam orang penting era Kesultanan Aceh Darussalam yang mau digeser untuk pembangunan pintu masuk keluar-jalan tol," jelas Mawardi.

"Ini daerah penting, tempat keluarga Kerajaan Aceh. Jadi batu nisan itu harus di posisi semula dan yang digeser itu pembangunannya bukan digeser makamnya," sambungnya."Kami tidak menolak pembangunan jalan tol, tapi bagaimana menyiasatinya jadi contohnya digeser pintu sehingga tidak mengenai makam," ujarnya.

Luruskan Sejarah Sultan Aceh ke-22, Pemkot Diminta Ganti Nama Jalan

Luruskan Sejarah Sultan Aceh ke-22, Pemkot Diminta Ganti Nama Jalan


Luruskan Sejarah Sultan Aceh ke-22, Pemkot Diminta Ganti Nama JalanFoto: Pemkot Banda Aceh
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh Sofyan Helmi mengusulkan agar Jalan Mohd Jam Banda Aceh dikembalikan namanya. Sehingga namanya menjadi Jalan Sultan Jamalul Alam Badrul Munir.

Peringati Hari Guru, Ketua DPRK Pimpin Upacara di MTsN Model


"Hal ini agar tidak mengaburkan sejarah Kerajaan Aceh pada generasi mendatang dan mengaburkan nama Sultan Jamalul Alam Badrul Munir sebagai salah satu sultan Aceh," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (27/11/2019)

Hal tersebut disampaikannya dalam rapat paripurna penyampaian, usul saran dan pandangan anggota dewan terhadap Rancangan Qanun APBK tahun anggaran 2020,di Gedung DPRK.

Sofyan menilai usulan tersebut supaya ada perhatian khusus dari Pemerintah Kota Banda Aceh terhadap cagar budaya atau tempat bersejarah di Gampong Kampung Baru, yaitu Makam Sultan Jamalul Alam Badrul Munir.

Sultan Jamalul Alam Badrul Munir merupakan sultan ke-22 di Kesultanan Aceh. Oleh karena itu, dirinya meminta agar diadakan pembebasan tanah dan bangunan di sekitar makam tersebut yang saat ini menjadi kawasan pertokoan.

"Saya juga minta Pemkot menganggarkan dana revitalisasi situs makam Sultan Sultan Jamalul Alam Badrul Munir dan situs-situs sejarah lainnya," jelasnya.

Ia berharap adanya program prioritas Pemerintah Kota Banda Aceh terhadap situs-situs sejarah, serta mengembalikan tupoksi kebudayaan ke Dinas Pariwisata dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.(detik)
Back To Top